Diego Maradona, legenda sepak bola Asal Argentina menyatakan dirinya siap bila ditunjuk sebagai Wakil Presiden FIFA, andai saja Pangeran Ali bin Al Hussein memenangi kursi Presiden dalam kongres luar biasa FIFA.

Seperti yang sudah sama- sama kita ketahui, saat ini kursi Presiden FIFA memang tengah kosong. Hal ini tak lepas dari mundurnya Sepp Blatter, pada Selasa 2 Juni 2015 lalu, hanya empat hari setelah ia terpilih kembali menduduki jabatan tersebut untuk yang kelima kalinya.

Setelah Sepp Blatter mundur, Pangeran Ali bin Al Hussein menjadi kandidat terkuat sebagai penerus tongkat kepemimpinan FIFA. Apalagi ia adalah saingan tunggal Sepp Blatter pada pemilihan lalu.

Diego Maradona pun mengaku bahwa ia siap maju sebagai pendamping Pangeran Ali bin Al Hussein. Ia bahkan secara terang- terangan mengungkapkan bahwa 73 suara yang didapatkan oleh Pangeran Ali bin Al Hussein pada pemilihan Presiden FIFA yang diadakan pada Jumat 29 Mei 2015 lalu tak lepas dari peranannya.

 

Diego Maradona Punya Andil Dalam Suara Pangeran Ali bin Al Hussein

sbobet casino online

 

Pangeran Ali bin Al Hussein memang mendapatkan 73 suara dari total 206 suara sah di Kongres FIFA yang lalu. Ia mestinya maju pada putaran kedua pemilihan tersebut, akan tetapi beberapa menit sebelum pemilihan putaran kedua tersebut berlangsung, ia memutuskan untuk mundur.

Diego Maradona berkata bahwa ia bisa menjadi Wakil Presiden FIFA bila saja Pangeran Ali bin Al Hussein menang. Ia berkata bahwa pada pemilihan sebelumnya, ia dan sang Pangeran telah mendapatkan 73 suara. Diego Maradona juga menekankan bahwa hal tersebut baru pertama kali terjadi di FIFA setelah sekian lama.

Diego Maradona juga berkata bahwa ia mengaku siap memerangi korupsi di tubuh FIFA. Mantan kapten tim nasional Argentina saat mereka juara Piala Dunia 1986 ini juga berkata bahwa ia akan membersihkan semua orang di FIFA.

Tak hanya itu, Diego Maradona yang menurut agen sbobet memang memiliki hubungan tak baik dengan Sepp Blatter juga sempa menyindir pria tersebut dan menyatakan bahwa ia mundur karena takut diselediki atas dugaan skandal korupsi di tubuh FIFA yang melibatkan sejumlah orang kepercayaannya.