Gianluca Vialli, mantan penyerang Juventus baru- baru ini menyatakan pandagannya mengenai strategi yang harus digunakan oleh Si Nyonya Besar untuk menghadapi Barcelona pada pertandingan final Liga Champions yang akan diadakan pada Sabut 6 Juni 2015 mendatang. Menurut pendapatnya, Juventus harus “parkir bus” untuk membendung serangan mematikan dari The Catalans.

Sebelumnya, Juventus berhasil melangkah ke partai puncak turnamen paling bergengsi antar klub Eropa ini setelah berhasil menyingkirkan juara bertahan asal Spanyol, Real Madrid. Dan ini akan menjadi final pertama Juara Serie A ini sejak tahun 2003 lalu. Dan mereka akan kembali menghadapi wakil Spanyol, di Berlin.

Mengenai hal ini, Gianluca Vialli yang telah tampil dalam lebih dari 100 kali bagi Juventus dan membantu tim tersebut meraih gelar Liga Champions 1996, berpendapat bahwa Andrea Pirlo dan kawan- kawan perlu mengadopsi pendekatan Jose Mourinho ketika bersama Inter Milan dan Roberto DI Matteo bersama Chelsea. Menurutnya dengan cara itu, Juventus akan bisa mengalahkan tim besutan Luis Enrique. Intinya mereka harus fokus ke pertahanan.

 

Gianluca Vialli Ingin Juventus Jadi Inspirasi

 

crownbola

Lebih lanjut, Gianluca Vialli memapaerkan bahwa Juventus harus bertahan dengan banyak pemain di belakang garis tengah, bahkan jika itu berarti parkir bus.  Ia menambahkan bahwa, Barcelona pada dasarnya lebih kuat, dan fakta itu sama sekali tak bisa diabaikan. Dengan pemain seperti Lionel Messi, Neymar dan Luis Suarez, sebuah tim bandar bola yakin bisa melakukan banyak kerusakan. Dan mereka memang bukan tim yang bisa ditaklukkan dnegan gampang.

Gianluca Vialli juga berharap agar nantinya pemain Juventus akan bisa dijadikan inspirasi oleh banyak pihak saat mereka kembali ke Berlin, tempat di mana Italia meraih gelar Piala Dunia 2006. Memang pertandingan final Liga Champions ini akan berlangsung di Berlin. Tempat di mana Gianluigi Buffon, Andrea Pirlo dan Andrea Barzagli bisa mengulang memori final Piala Dunia 2006 silam. Walau begitu, mantan pemain internasional Italia ini menolak anggapan bahwa kembalinya Juventus ke level tertinggi Eropa ini melahirkan kembali permainan Italia.