Pangeran Ali Al Hussein tampaknya enggan bicara banyak setelah ia memutuskan untuk mundur dari putaran kedua pemilihan Presiden FIFA yang diadakan di Zurich, Swiss Jumat 29 Mei 2015 lalu. Pria asal Yordania ini hanya mengucapkan rasa terima kasihnya pada semua pihak yang telah mendukungnya sehingga ia berani melawan Sepp Blatter.

Setelah mengumumkan dirinya memutuskan untuk mundur dari pemilihan tersebut, Pangeran Al Al Hussein menyatakan bahwa apa yang telah ia lakukan sejauh adalah perjalanan yang indah. Dan karena itu ia ingin mengucapkan terima kasih pada semua orang yang sudah cukup berani mendukungnya. Lebih lanjut ia berkata bahwa dirinya berharap yang terbaik bagi semua orang yang terlibat dalam pemiliha Presiden FIFA ini di masa yang akan datang.

Sebenarnya proses pemilihan ini harus masih berlangsung hingga putaran kedua, karena pada putaran pertama tak ada kandidat yang mendapatkan dua pertiga dari total 209 voter. Sepp Blatter yang sejak awal diperkirakan akan menjadi pemenang mendapatkan113 suara, sementara Pangeran Ali Al Hussein mendapatkan 73 suara. Dengan kata lain adai tiga suara yang tak memilih salah satu dari mereka.

 

Pangeran Ali Al Hussein Tak Jelaskan Alasannya

 

sbobet casino online

Akan tetapi tak lama sebelum putaran kedua akan berlangsung, Pangeran Ali Al Hussein memutuskan untuk mundur. Dan dengan begitu, Sepp Blatter secara resmi terpilih lagi menjadi Presiden FIFA untuk kelima kalinya secara berturut- turut. Sepp Blatter memang telah memimpin organisasi tertinggi sepak bola dunia ini sejak tahun 1998 silam, dan ia akan kembali memimpin untuk empat tahun mendatang.  Pria berusia 78 tahun ini sepertinya akan menggenapkan masa kepempimpinannya di FIFA menjadi 20 tahun.

Tak begitu jelas apa alasan Pangeran Ali Al Hussein mundur dari proses pemilihan ini. Namun sebelumnya empat orang kandidat lainnya juga memutuskan mundur dari pertarungan ini. Di antaranya adalah Michael Van Praag dan Luis Figo.

Luis Figo sendiri sempat menyatakan bahwa dirinya memutuskan mundur karena ia berpendapat pemilihan tersebut akan menjadi sia- sia belaka, karena semua orang tau siapa yang akan memenangkannya. Hal ini juga terkait dengan skandal FIFA yang terjadi beberapa waktu terakhir. Teranyar, tujuh orang petinggi FIFA ditangkap karena kasus dugaan korupsi.